Entogong Jali Dikumpulkan oleh Adel

Koleng Pramakng

Koleng Pramakng

Koleng Pramangk

8:07 menit

Ini adalah sebuah kisah tentang Koleng Peramang, sebuah cerita rakyat yang diwariskan oleh orang tua zaman dahulu. Pada masa itu, dunia manusia dan dunia kaum Koleng Peramang masih menyatu, sehingga mereka bisa saling bergaul dan bercakap-cakap layaknya sesama manusia. Hubungan ini terjalin sangat erat, terutama antara masyarakat dari Nanga Jaba dengan kelompok Koleng Peramang yang mendiami wilayah di sepanjang jalur Sungai Payak.

Kehidupan sehari-hari mereka tidak jauh berbeda, karena kedua kelompok ini sama-sama mengandalkan ladang untuk bertahan hidup. Kaum Koleng Peramang menggarap lahan di daerah Sungai Payak, sementara kelompok manusia yang dikenal sebagai kaum Patipaka tinggal di sekitar wilayah Nanga Tebidah. Meskipun berasal dari alam yang berbeda, mereka sering kali saling mengunjungi dan bertamu untuk menjaga tali silaturahmi.

Kedekatan mereka juga terlihat dalam tradisi nuba, yaitu kegiatan mencari ikan di sungai menggunakan racun alami dari akar tuba. Tradisi ini biasanya dilakukan setahun sekali, tepatnya pada bulan keempat setelah musim panen berakhir. Manusia dan Koleng Peramang akan turun ke sungai bersama-sama untuk memanen hasil air, menandakan betapa harmonisnya pergaulan mereka pada masa itu.

Namun, suatu ketika terjadilah sebuah ketegangan saat kegiatan nuba sedang berlangsung di jalur Sungai Kayan yang menjadi wilayah Koleng Kana. Saat itu, air sungai sedang besar atau pasang, dan seorang pemimpin dari pihak manusia bernama Rodak ditunjuk menjadi kepala kegiatan nuba tersebut. Ketegangan memuncak ketika manusia merasa cara kaum Koleng Peramang dalam menebar tuba tidak tepat karena dilakukan saat debit air sedang tinggi.

Rodak dan kelompok manusia lainnya merasa marah karena menganggap tindakan tersebut sia-sia, namun kaum Patipaka tetap berusaha mengambil air tuba tersebut ke darat menggunakan timba. Meskipun air sedang pasang, Patipaka memiliki kemampuan untuk menimba tuba tersebut hingga ke tepian. Hasilnya, ikan-ikan pun mulai bermunculan, walaupun banyak yang terkumpul di ujung-ujung sungai dalam keadaan sudah membusuk karena pengaruh tuba tersebut.

Perselisihan semakin meruncing ketika manusia mulai memeriksa bubu atau jebakan ikan milik orang-orang Nanga Jaba dari kaum Koleng Peramang. Di mata manusia, bubu tersebut berisi barang-barang berharga seperti senapan, tikar, hingga gong yang sangat mewah. Namun, kaum Koleng Peramang bersikeras bahwa isi bubu mereka hanyalah tumpukan kayu dan batu biasa yang tidak memiliki nilai berharga seperti yang dilihat oleh mata manusia.

Perbedaan penglihatan ini memicu pertengkaran hebat karena kedua belah pihak mulai tidak saling percaya satu sama lain. Kaum Patipaka menuduh Koleng Peramang menggunakan harta benda sebagai umpan, sementara kaum Koleng Peramang merasa manusia salah dalam melihat kenyataan. Akibat perdebatan yang sengit ini, ikatan pertemanan mereka mulai retak dan muncul keinginan untuk tidak lagi berhubungan.

Salah satu sosok dari kaum Koleng Peramang yang bernama Perames atau Peramang merasa sangat geram hingga kekuatannya mengguncang alam di sekitar Sungai Payak. Ia menerjang Bukit Mamag hingga menyebabkan tanah longsor di satu sisi bukit tersebut akibat kemarahannya yang meluap. Namun, ada sosok Temenggung bernama Koleng yang dikenal sangat sabar dan berusaha menenangkan situasi agar pertikaian tidak semakin memburuk.

Koleng, sang Temenggung, didampingi oleh istrinya yang bernama Kumang, sementara Peramang memiliki istri bernama Langai. Ada pula sosok Timang Raja Bungsu, seorang perempuan yang sangat sabar dan memiliki kemampuan luar biasa dalam menenangkan suasana. Koleng menyadari bahwa waktu kebersamaan antara manusia dan kaumnya sudah hampir habis, sehingga ia meminta agar semua pihak bisa menahan amarah di sisa waktu pertemuan mereka.

Koleng menyampaikan pesan terakhir bahwa setelah musim panen ini berlalu, mereka mungkin tidak akan bisa lagi saling bertatap muka atau berkunjung seperti sedia kala. Manusia dan Koleng Kana akan menjalani hidup masing-masing di alam yang berbeda dan terpisah secara kasat mata. Sejak saat itu, kisah tentang Kumang dan Koleng menjadi sangat terkenal sebagai bagian dari adat dan judul cerita rakyat yang terus diceritakan turun-temurun.

Kini, manusia tidak lagi bisa melihat keberadaan kaum Koleng Peramang, meskipun bekas-bekas peninggalan mereka diyakini masih ada di beberapa tempat. Bukti-bukti nyata seperti Batu Balai Sengkumang di Sungai Masau masih bisa ditemukan, lengkap dengan lubang pada batu yang konon merupakan bekas tempat duduk mereka. Selain itu, terdapat pula Batu Peringgi Sengkumang yang ukurannya sebesar rumah di sekitar Bukit Tupai Anak Keturatn.

Cerita ini juga mengisahkan tentang peristiwa kebakaran hebat yang terjadi saat musim membakar ladang, di mana api dari Karakas membakar segalanya bahkan di tengah hari hujan. Kemarahan manusia kembali tersulut ketika rumah-rumah ladang dan harta benda mereka habis dimakan api akibat kekuatan ajaib kaum tersebut. Akhirnya, setelah semua rangkaian peristiwa itu selesai, kaum Koleng Peramang benar-benar menghilang dan berpindah ke tempat yang tidak diketahui oleh manusia hingga saat ini.