Mamang Biang
Mamang Biang
Alkisah, tersebutlah seorang lelaki sakti bernama Mamang Biang yang berasal dari tanah Melawi. Meskipun asal-usul pastinya tidak diketahui secara jelas, ia hidup di masa ketika manusia biasa masih berdampingan erat dengan kekuasaan para dewa. Mamang Biang kemudian pergi merantau dan mengambil istri dari daerah Kayan, tepatnya di Hulu Nanga Masau yang terletak di kaki Bukit Diang. Istrinya adalah seorang perempuan cantik bernama Mia Petalon.
Namun, pernikahan itu tidaklah tenang karena Mia Petalon menjadi rebutan antara Mamang Biang dan seorang pria Islam bernama Mamang Ketawar yang datang dari arah Sintang. Mamang Ketawar bukanlah orang sembarangan; ia memiliki kesaktian yang luar biasa. Di sisi lain, Mia Petalon dan Mamang Biang pun diberkahi dengan kekuatan gaib serta perlindungan dari roh-roh yang membuat kesaktian mereka tampak nyata di mata orang-orang.
Perselisihan antara kedua lelaki sakti ini akhirnya memuncak dalam sebuah pertarungan. Mamang Ketawar ternyata kalah sakti dan merasa takut kepada Mamang Biang. Ayah Mia Petalon yang melihat hal tersebut juga merasa gentar dan lebih memilih menerima Mamang Biang sebagai menantunya karena sifat Mamang Biang yang dikenal kejam dan suka membunuh. Akhirnya, Mamang Biang resmi menikah dengan Mia Petalon dan menetap di sana.
Meskipun Mia Petalon sudah menjadi istri sah Mamang Biang, Mamang Ketawar tidak pernah benar-benar menyerah. Ia masih memikirkan kecantikan Mia Petalon dan mencari akal agar Mamang Biang meninggal dunia sehingga ia bisa menikahi jandanya. Mamang Ketawar kemudian mendekati Mia Petalon dan menghasutnya. Ia mengatakan bahwa jika membunuh Mamang Biang dengan tangan kosong tidaklah mungkin, maka harus dilakukan melalui perbuatan-perbuatan yang tidak baik atau tipu muslihat.
Mia Petalon, yang ternyata menyimpan perasaan bimbang di antara kedua pria itu, akhirnya menyetujui rencana tersebut. Saat itu, ia sedang mengandung anak dari Mamang Biang yang kelak akan diberi nama Mamang Semenok. Untuk melancarkan rencana pembunuhan secara halus, Mia Petalon berpura-pura ngidam dan tidak mau makan ataupun minum jika keinginannya tidak dipenuhi. Ia meminta hati babi yang memiliki rantai besi di tubuhnya.
Mamang Biang merasa heran karena sepanjang hidupnya ia belum pernah mendengar ada babi yang berantai besi. Rupanya, babi tersebut adalah babi tiruan buatan Mamang Ketawar yang dilukis menggunakan arang dan dibuat dari rebung yang ditancapkan sedemikian rupa. Mamang Ketawar menyebarkan berita bahwa babi ajaib itu berada di Sungai Telapi, Nanga Kayan. Meski Mamang Biang curiga bahwa ini adalah jebakan untuk membunuhnya, ia tetap bersiap berangkat demi memenuhi keinginan istrinya.
Sebelum berangkat, Mamang Biang membuat tujuh buah kujor (tombak) dari kayu tebelian sebagai senjatanya. Istrinya, Mia Petalon, sebenarnya masih memiliki rasa sayang sekaligus benci kepada suaminya. Dengan kesaktiannya, ia mencoba menghalangi perjalanan Mamang Biang. Mia memotong rambutnya sendiri dan mengubahnya menjadi jalinan rotan yang menutup aliran Sungai Kayan agar suaminya gagal lewat. Ia juga menghamburkan beras yang berubah menjadi ribuan serangga penggigit untuk menghadang suaminya.
Namun, Mamang Biang terlalu sakti untuk dihentikan. Saat melihat ribuan serangga, ia merapalkan mantra yang membuat serangga-serangga tersebut kembali menjadi butiran beras. Begitu pula saat ia dihadang oleh jalinan rotan dari rambut istrinya; hanya dengan mengeluarkan parangnya saja, seluruh rotan itu putus seketika tanpa perlu ditebas. Mamang Biang pun terus melaju ke hulu sambil membawa tujuh ekor anjing pemburu untuk mengejar babi berantai besi tersebut.
Perburuan itu berlangsung sangat sengit dan melintasi berbagai daerah seperti Hulu Tebidah hingga Tanjung Miru. Dalam pengejaran itu, anjing-anjing Mamang Biang mati satu per satu akibat digigit oleh babi ajaib tersebut, hingga menyisakan jejak berupa batu yang menyerupai anjing di Ombak Modang. Mamang Biang terus melemparkan tombak tebeliannya. Saat babi itu menggigit dan menghancurkan tombak-tombak tersebut, serpihan kayu tebelian itu jatuh ke tanah dan tumbuh menjadi pohon tebelian yang kini banyak ditemukan di daerah pesisir Nanga Ungai dan sekitarnya.
Akhirnya, babi berantai besi itu mati di daerah Hulu Sintang. Mamang Biang kemudian membagikan daging babi tersebut kepada orang-orang di sana. Orang Cina mendapatkan bagian perut, yang menurut Mamang Biang menjadi pertanda bahwa mereka akan hidup dengan cara berdagang atau "memutar perut". Orang Uud Danum mendapatkan bagian kaki, yang memberikan mereka kekuatan lari yang luar biasa saat mendaki bukit atau bertempur. Mamang Biang sendiri mengambil bagian hati untuk dibawa pulang kepada istrinya.
Setelah memberikan hati babi tersebut kepada Mia Petalon, Mamang Biang memberikan pesan terakhir kepada istrinya tentang anak mereka yang masih di dalam kandungan. Jika anak itu laki-laki, ia harus diberi nama Mamang Semenok. Mamang Biang juga meninggalkan jimat-jimat sakti untuk anaknya sebelum ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Kayan dan kembali ke tanah Melawi. Ia kemudian mengembara hingga ke daerah Kayong dan menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Mia Tiong Ganak.
Tahun-tahun berlalu, Mamang Semenok tumbuh menjadi remaja yang gagah. Setelah mengetahui jati diri ayahnya dari sang ibu, ia berangkat menyusul ke Melawi dengan membawa seluruh jimat peninggalan ayahnya. Setelah melalui perjalanan panjang, ia berhasil menemukan rumah Mamang Biang. Untuk menguji apakah benar Semenok adalah darah dagingnya, Mamang Biang melemparkan pinang, dan Semenok berhasil menangkapnya dengan tangkas menggunakan ekor sabuknya. Mamang Biang pun mengakui anaknya dengan bangga.
Suatu hari, Mamang Biang membawa Semenok mandi ke Kolam Beronai di Pati Serangkah, sebuah tempat yang airnya hitam dan sangat angker. Di sana, Semenok sempat lemas dan pingsan, namun ayahnya berhasil menghidupkannya kembali menggunakan kekuatan batu meteor. Setelah kejadian itu, Mamang Semenok memutuskan untuk kembali ke Kayan. Sebelum berpisah, ayahnya memberikan tempayan romeh putih sebagai bekal dan mengantarnya hingga ke puncak Bukit Alat.
Di puncak Bukit Alat itulah, ayah dan anak ini membuat batas kekuasaan. Daerah yang akarnya melilit ke kanan adalah milik Mamang Semenok di wilayah Kayan, sedangkan yang melilit ke kiri adalah milik Mamang Biang di wilayah Melawi. Mereka juga menetapkan aturan adat tentang upacara kematian dan jumlah babi yang harus dikorbankan. Mamang Semenok kemudian kembali ke Kayan dan menikah dengan Dayang Ngiang. Hingga saat ini, keturunan mereka diyakini masih ada, hidup sebagai manusia biasa meskipun warisan kesaktian para leluhur mereka telah memudar ditelan zaman.