Nanga Abai Singkai Dikumpulkan oleh Lili

Batu Tangok

Batu Tangok

Batu Tangok

3:46 menit

Alkisah di sebuah wilayah yang kini dikenal dengan keberadaan Batu Tanga, hiduplah sepasang suami istri beserta kedua anak mereka. Kehidupan mereka semula berjalan biasa saja, hingga pada suatu hari terdapat sebuah pesta besar yang diselenggarakan di desa tersebut. Sang suami memutuskan untuk pergi berburu ke hutan dengan cara menyumpit, meninggalkan anak dan istrinya di rumah untuk sementara waktu.

Namun, sang istri ternyata tidak menunggu suaminya pulang dan justru memilih untuk berangkat terlebih dahulu ke tempat pesta. Ia membawa kedua anaknya menuju keramaian tersebut tanpa memberi tahu sang suami yang sedang berburu. Ketidakhadiran anak dan istrinya di rumah inilah yang nantinya memicu rangkaian peristiwa tragis bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Ketika sang suami pulang dari hutan, ia mendapati rumahnya sudah kosong melompong tanpa ada jejak anak maupun istrinya. Rasa cemburu dan amarah mulai menyelimuti hatinya karena ia merasa ditinggalkan begitu saja oleh sang istri. Ia pun memutuskan untuk menyusul mereka ke tempat pesta dengan membawa hasil buruannya saat itu.

Dalam perburuan tersebut, sang suami ternyata mendapatkan seekor induk lutung yang sudah mati dan seekor anaknya yang masih hidup. Ia menggendong anak lutung itu dan membawanya serta menuju keramaian pesta. Di kepalanya telah tersusun sebuah rencana untuk meluapkan kekesalannya dengan cara yang tidak terduga di tengah kerumunan orang.

Sesampainya di tempat pesta, sang suami mendandani anak lutung tersebut dengan mengikat kepalanya dan memasangkan hiasan anting layaknya manusia. Setelah dirasa cukup menarik perhatian, lutung yang telah dihias itu dilepaskan di tengah-tengah orang banyak yang sedang berpesta. Kehadiran hewan dengan dandanan aneh tersebut seketika memancing perhatian seluruh tamu yang hadir di sana.

Melihat tingkah laku lutung yang mengenakan anting dan hiasan kepala, semua orang di pesta itu mulai tertawa terbahak-bahak. Suara tawa mereka pecah hingga menciptakan bunyi yang gemuruh karena jumlah manusia yang berkumpul sangat banyak. Namun, kegembiraan yang berlebihan atas penghinaan terhadap makhluk hidup itu menjadi awal mula datangnya petaka besar.

Tak lama setelah tawa riuh itu meledak, cuaca yang semula tenang tiba-tiba berubah menjadi sangat mendung dan gelap. Angin kencang mulai berhembus hingga pandangan mata menjadi terbatas karena suasana yang begitu pekat. Alam seolah bereaksi atas apa yang terjadi di dalam rumah tempat pesta tersebut berlangsung.

Tiba-tiba, muncul angin puting beliung yang besarnya digambarkan menyerupai batang pohon dapuh. Angin tersebut berputar-putar dengan hebatnya dan masuk ke dalam rumah tempat orang-orang sedang berpesta. Suasana yang semula penuh tawa berubah menjadi kepanikan luar biasa saat kekuatan alam itu mulai mengurung mereka semua.

Secara perlahan namun pasti, segala sesuatu yang berada di dalam jangkauan angin tersebut mulai mengental dan berubah bentuk. Seluruh bangunan beserta orang-orang yang ada di dalamnya berubah menjadi batu secara ajaib. Konon, selama tujuh hari lamanya, masih terdengar bunyi gemuruh dari dalam bongkahan batu yang semula adalah sebuah rumah.

Di dalam rumah yang telah membatu itu, orang-orang terjebak dan tidak bisa keluar karena celah yang ada hanyalah lubang kecil seukuran rotan atau kelongkong. Mereka hanya bisa mengulurkan jari dan lengan melalui lubang kecil tersebut sambil memohon untuk ditarik keluar. Mereka berteriak minta tolong kepada siapa saja yang berada di luar agar bisa dibebaskan dari himpitan batu.

Orang-orang yang mencoba menolong berusaha mencongkel bagian batu tersebut untuk mengeluarkan mereka yang terjepit. Namun, setiap kali batu itu dicongkel dalam ukuran tertentu, secara ajaib bagian batu tersebut akan sembuh dan menutup kembali seperti semula. Upaya penyelamatan itu sia-sia karena kekuatan magis yang mengubah mereka jauh lebih kuat dari usaha manusia.

Di tengah kekacauan itu, dua orang cucu dari keluarga tersebut berhasil lari menyelamatkan diri untuk menghindari kutukan. Mereka melakukan sebuah ritual dengan memotong jari kelingking seekor burung dan kemudian memotong jari kelingking mereka sendiri. Darah yang mengalir dari pemotongan jari tersebut membuat air di sekitar lokasi menjadi berwarna merah.

Setelah darah dari kelingking itu mengalir, barulah cuaca yang semula gelap dan buruk perlahan menjadi cerah kembali. Sementara itu, sang suami yang melepaskan lutung tadi juga melarikan diri karena rasa takut jika dirinya ikut berubah menjadi batu. Ia meninggalkan lokasi tersebut saat bencana mulai merenggut nyawa orang-orang di dalam rumah pesta.

Selama tujuh hari tujuh malam, orang-orang di luar merasa sedih dan lelah karena tidak bisa menolong mereka yang terkurung di dalam batu. Akhirnya, sebuah keris diberikan kepada mereka yang berada di dalam bongkahan batu tersebut. Karena putus asa dan tidak ada jalan keluar, keris itu digunakan oleh orang-orang di dalam untuk saling membunuh satu sama lain agar penderitaan mereka berakhir.

Kini, lokasi tersebut hanya menyisakan bongkahan batu yang disebut Batu Tanga sebagai pengingat akan kejadian masa lalu. Dua orang cucu yang berhasil selamat tetap hidup, sementara yang lainnya telah menyatu dengan batu tersebut. Kisah ini berakhir dengan habisnya narasi mengenai asal-usul terjadinya batu yang menyimpan misteri dari sebuah pesta yang berakhir tragis.